[REVIEW] RUSH (2013)

RUSH MovieMagz 11

Ditulis oleh : Harry Susanto (MOVIENTHUSIAST)
Download IDFL Moviemagz, klik DISINI

Menggetarkan, cantik, emosional dan inpiratif, Rush adalah opus dari seorang Ron Howard buat dua legenda balap Formula 1 yang tersaji dan persembahan terbaik untuk para penonton yang mencari sebuah drama olahraga megah dengan semangat rivalitas tanpa tandingan ini. ‘’A wise man can learn a lot from his enemies, rather than a fool from his friends’’

Dari Muhammad Ali-Joe Frazier (tinju), Roger Federer-Rafael Nadal (tenis), Valentino Rossi-Max Biaggi (Moto GP) sampai Cristiano Ronaldo-Lionel Messi (Sepak Bola), dunia olahraga seperti tidak pernah berhenti menciptakan kisah-kisah persaingan sengit atlit-atlit hebat kelas dunia dalam usahanya mencapai yang terbaik, bahkan ajang balap jet darat Formula One punya kisah rivalitas mereka sendiri yang tidak kalah luar biasanya, yang paling terkenal mungkin cerita dari legenda F1 asal Brasil,Aryton Senna dan rival abadinya, Alain Prost di musim 1988-1993. Tetapi jauh sebelum era Senna-Prost persaingan sengit antara dua pebalap hebat F1 yang menjadi cerita sejarah menarik sampai saat ini sudah terjadi antara James Hunt dan Niki Lauda, nah, berbekal kisah ini kemudian sutradra kaliber Oscar Ron Howard (Apollo 13, A Beautfiul Mind, Frost/Nixon) menghadirkan biopik kedua pebalap itu dalam Rush.

Settingnya mengambil tahun 70′an, era di mana balapan formula masih sangat berbahaya dan memakan banyak korban. Pelakunya adalah James Hunt (Chris Hemsworth), pembalap Inggris flamboyan yang pertama kali bertemu rival abadinya, Niki Lauda (Daniel Brühl), si jenius asal Austia di kasta terendah formula 3. Sejak saat itu percik persaingan sudah mulai tumbuh di antara mereka sampai pada akhirnya ajang bergengsi Formula 1 kembali mempertemukan kedua racer berbakat dan keras kepala ini. Lauda mewakili Ferarri sementara Hunt dengan McLaren-nya, keduanya terlibat dalam dua musim balap terbaik Formula 1 yang pernah ada.


Tentu saja dengan track record semengkilap itu kamu tidak mungkin meragukan seorang sekaliber Ron Howard. Dan mengarap biopik mungkin sudah seperti sarapannya setiap pagi, lihat saja Apollo 13, A Beautiful Mind, Cinderella Man sampai Frost/Nixon, semuanya punya kualitas sebuah biographi movie yang tinggi. Jadi tentu saja ada harapan begitu besar ketika ia menghadirkan Rush, apalagi dengan dasar cerita yang semenarik itu. Dan benar saja, Rush bisa jadi adalah persembahan terbaik Howard.

Pusat gravitasi narasinya ada pada rivalitas “benci tapi rindu” Lauda-Hunt yang keduanya dimainkan secara luar biasa oleh Daniel Brühl dan yang mengejutkan, Chris Hemsworth bersama karakter-karakter mereka yang bak langit dan bumi. Lauda digambarkan sebagai pria dingin, cerdas, penuh perhitungan dan kelewat percaya diri, dan meskipun hebat dalam memacu mobilnya ia tidak memiliki banyak fans karena sifat dan wajahnya yang pas-pasan. Sementara sang Dewa Asgard bertransformasi sempurna menjadi James Hunt, pebalap tampan dan flamboyan, baginya seks dan perempuan adalah sarapannya setiap hari, serta ketenaran dan balapan adalah segalanya untuk ditaklukan. Namun apa yang terjadi bukan sekedar persaingan biasa, ada dorongan luar biasa yang merasuki keduanya, membuat mereka secara tidak langsung saling memberi kekuatan satu sama lain. Dalam perkembangannya, rivalitas tersebut menjadi rasa saling menghormati satu sama lain. Di bawah naskah olahan Peter Morgan, screenwriter yang pernah menghadirkanmu Tinker, Tailor, Soldier, Spy, Skyfall dan Frost/Nixon, dua karakter tadi diperlakukan seimbang. Kita diperlihatkan setiap kekurangan mereka sama besarnya dengan kelebihan masing-masing lengkap dengan segala konflik hidup dan romansa mereka di luar arena balap bersama kekasih-kekasih mereka. Penerapan jatah yang adil ini membuat penontonnya dengan mudah terikat dan peduli kepada keduanya, dan tidak peduli siapapun yang menang diujungnya nanti, kita sudah tidak lagi mempermasalahkannya.

Rush punya presentasi yang sama baiknya dengan naskahnya. Setiap balapan tidak hanya terasa nyata ketika Howard dengan cerdas menggabungkan segala footagefootage asli dan desain produksi dan kostum era 70′an-nya, namun ia juga terlihat cantik dan keren dengan segala efek slowmo dan guyuran hujan yang ditempatkan pada saat yang tepat tanpa harus terkesan berlebihan bersama dukungan sinematografi ciamik dari veteran Anthony Dod Mantle yang berpadu padan dengan scoring epik na heroik sang master, Hanz Zimmer yang sukses menciptakan aroma magis dunia balap penuh emosi dan adrenalin yang tidak ada duanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>